telkomsel halo

Tip psikologis agar lebaran lebih bermakna

06:11:00 | 31 Mar 2025
Tip psikologis agar lebaran lebih bermakna
JAKARTA (IndoTelko) - Idul Fitri seharusnya menjadi momen penuh kehangatan dan kebersamaan bersama orang-orang terkasih. Namun tidak semua orang bisa merayakan dengan damai. Tekanan sosial, pertanyaan pribadi, dan ekspektasi dari lingkungan sering kali menimbulkan stres, bahkan kecemasan.

Sebagai platform kesehatan digital yang tepercaya dan lengkap, Halodoc berkomitmen tidak hanya dalam menjaga kesehatan fisik masyarakat, tetapi juga kesehatan mental, terutama di momen krusial seperti Idulfitri, ketika tekanan emosional kerap meningkat.

Data dari Halodoc Health & Wellness Insight 2025 mencatat, terjadi peningkatan sebesar 16% dalam konsultasi kesehatan mental pada minggu pertama setelah Idul Fitri—sebuah tanda bahwa banyak orang masih berjuang secara emosional bahkan setelah perayaan usai.

Menurut Chief Medical Officer Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, pihaknya percaya bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Momen Idul Fitri bisa menjadi tantangan bagi sebagian orang karena tekanan sosial yang memicu stres dan kecemasan.

“Data Halodoc menunjukkan gangguan kecemasan dan depresi merupakan dua masalah utama pengguna. Oleh karena itu, kami berkomitmen menyediakan layanan kesehatan mental komprehensif, mulai dari edukasi, tes kesehatan mandiri, hingga konsultasi dengan psikolog dan psikiater tepercaya,” ujarnya.

Halodoc juga telah merangkum tips untuk menjalani Idul Fitri lebih tenang dan bermakna dari Mitra Psikolog Halodoc, Miki Amrilya Wardati S.Psi, M.Psi. Berikut lima tips praktis yang dapat dilakukan :

1. Jaga suasana hati agar tetap positif

Idulfitri identik dengan kebahagiaan, namun tidak semua orang mengalaminya dengan cara yang sama. Interaksi sosial yang kurang sehat, seperti membahas hal pribadi, rasa ingin tahu berlebihan, atau komentar menyinggung dapat menimbulkan stres. Secara otomatis, individu akan melakukan appraisal untuk menilai emosinya, apakah cenderung timbul emosi negatif seperti terganggu, sakit hati, marah, atau tetap tenang. Kemudian, individu kembali melakukan secondary appraisal untuk merespon pertanyaan yang menimbulkan emosi negatif dan bagaimana mengelola emosi yang timbul atas situasi tersebut. Situasi ini berpeluang memunculkan kondisi stres pada individu apabila menjawab pertanyaan dan mengelola emosi itu sulit/gagal dilakukan.

Rekomendasi

Kelola ekspektasi dan fokus pada hal-hal yang membuat hati senang, seperti menjalankan ibadah dengan khusyuk, berbincang santai dengan keluarga dekat, atau menikmati momen kecil tanpa tekanan.

2. Atur batas dalam interaksi sosial

Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia cenderung membandingkan diri dengan orang lain, yang dapat memicu perasaan tidak nyaman. Dalam interaksi sosial, hal ini bisa muncul melalui pertanyaan atau komentar yang tanpa disadari menyinggung perasaan lawan bicara. Oleh karena itu, menetapkan batasan dalam percakapan menjadi penting untuk menjaga hubungan tetap harmonis.

Rekomendasi

Hindari pertanyaan sensitif dan personal yang berpotensi menyinggung perasaan. Misal, alih-alih bertanya soal kapan punya anak atau kapan lulus kuliah, kita bisa membahas hal yang lebih umum, seperti menanyakan hobi atau kesibukan saat ini.

3. Kendalikan situasi, kelola emosi

Seseorang dapat mengubah cara pandang agar tidak merasa tertekan, dengan menerapkan cognitive reframing. Misalnya, alih-alih terganggu oleh pertanyaan pribadi, seseorang bisa melihatnya sebagai bentuk kepedulian, dapat membantu merespons dengan lebih tenang dan terkontrol.

Rekomendasi

Gunakan assertive communication agar tetap sopan namun tegas dalam menyampaikan batasan. Bila ditanya “Kapan menikah?”, jawablah dengan santai tapi tegas: “Terima kasih sudah peduli. Saya masih menikmati masa sekarang dulu.” Ini menjaga kesopanan sekaligus memberi batas.

4. Jangan ragu mencari bantuan profesional

Jika sudah melakukan rekomendasi di atas namun belum bisa mengatasi kecemasan yang dirasakan karena tekanan sosial saat momen Idulfitri, penting untuk mencari pertolongan ke profesional dan tidak melakukan self-diagnose, karena kecemasan berlebihan yang dibiarkan dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan yang memengaruhi kualitas hidup.

Rekomendasi

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional. Melalui Halodoc, Anda dapat dengan mudah terhubung dengan psikolog klinis atau psikiater berkompetensi yang siap membantu memberikan panduan serta solusi yang sesuai dengan kondisi Anda. Mendapatkan dukungan dari ahlinya adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.

5. Beri waktu jeda sebelum kembali ke rutinitas

Menyesuaikan diri dari libur panjang ke rutinitas dapat memicu transition stress, yaitu tekanan psikologis akibat perubahan aktivitas yang signifikan. Setelah menikmati waktu santai, kembali ke kesibukan sehari-hari bisa terasa berat dan memicu post-holiday blues, kondisi di mana seseorang merasa kurang bersemangat, lelah, atau bahkan cemas menghadapi rutinitas.

Rekomendasi

Beri waktu jeda atau buffer time sebelum kembali beraktivitas agar transisi terasa lebih lancar dan tidak terlalu membebani mental. Selain itu, merencanakan hal-hal menyenangkan setelah Lebaran, seperti bertemu teman, menjalani hobi, atau mengatur liburan singkat di akhir pekan, dapat membantu menjaga motivasi dalam menjalani keseharian.

GCG BUMN
Dengan memahami tantangan psikologis yang dapat muncul selama dan setelah Idulfitri, kita bisa lebih siap dalam mengelola tekanan sosial serta menjaga kesejahteraan emosional. Idulfitri seharusnya menjadi momen yang membawa kedamaian, bukan beban. Dengan menerapkan rekomendasi dari psikolog Halodoc di atas, setiap individu dapat menjalani perayaan ini dengan lebih tenang dan bermakna. Halodoc berkomitmen untuk terus mendukung kesehatan mental masyarakat dengan menyediakan akses mudah ke layanan kesehatan profesional. (mas)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Idul Fitri IndoTelko
More Stories