JAKARTA (IndoTelko) – Implementasi Net Neutrality diprediksi bisa memukul kinerja vendor dan operator karena pelambatan investasi yang dilakukan keduanya.
“Jika perusahaan internet tak bisa menghasilkan uang dari jaringannya, tentu mereka enggan berinvestasi untuk membangun jaringan dengan kecepatan tinggi, Ini akan mempengaruhi kinerja vendor juga,” ungkap CEO Cisco John Chambers seperti dilansir Business Insider belum lama ini.
Bos Cisco ini bersuara pasca Presiden Amerika Serikat Barrack Obama mengeluarkan pernyataan yang mendukung penerapan Net Neutrality. Obama mengkategorikan penyedia akses internet sebagai “Title II” atau sama dengan telepon.
Jika ini diterapkan operator akan dilarang membeda-bedakan kualitas akses yang diberikan terhadap suatu konten dalam jarigannya. Konsep ini dikenal juga dengan net neutrality.
Pernyataan ini mengkonter Chairman FCC Tom Wheeler yang sinyalnya akan memberikan izin bagi operator untuk mengenakan tarif bagi pemain Over The Top (OTT) seperti Google, Netflix, dan lainnya yang akan melewati jaringannya.
Rencana dari regulator telekomunikasi Amerika Serikat ini pun banyak ditentang pemain internet lainnya karena beranggapan pemodal besar yang akan dilayani operator nantinya.
Salah satu operator besar di Amerika Serikat, AT&T memberikan sinyal, jika Net Neutrality dijalankan, rencana menggelar serat optik yang ada dalam perusahaan akan ditunda sembari menunggu kepastian hukum bagi investasinya.
“Rencana Obama itu akan melukai Penyedia Jasa Internet (PJI) padahal, di beberapa area mereka tengah berjuang untuk selamat. Pendapatan Cisco sendiri dari operator turun 10% di kuartal terakhir karena operator mengerem nafsu berinvestasi,” kata Chambers.
Sementara Director General GSMA Anne Bouverot mengingatkan rencana Obama menjadikan penyedia broadband sebagai Title II bisa menganggu operator karena masa depan usaha ada di internet. “Operator selama ini sudah mendapatkan regulasi yang ketat. Harusnya pendekatannya lebih soft karena selama ini terbukti sudah berkontribusi bagi ekonomi Amerika Serikat,” katanya.(wn)