telkomsel halo

Nasib Bakrie Telecom, Dari Operator Jaringan menjadi Penyedia Jasa

08:45:16 | 10 Nov 2015
Nasib Bakrie Telecom, Dari Operator Jaringan menjadi Penyedia Jasa
Manajemen Bakrie Telecom (dok)
JAKARTA (IndoTelko) – Perjalanan sebuah perusahaan di kompetisi seluler nasional tak bisa ditebak.

Jika di pertengahan tahun 2000-an nama PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) lumayan menjulang sebagai pemain berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA). Kini, pemilik merek Esia itu harus berpuas diri hanya menjadi penyedia jasa saja.

Memang, sejak April 2015 lalu Bakrie Telecom telah mendapatkan izin sebagai penyelenggara jasa seluler. (Baca juga: Bentuk Kerjasama Bakrie Telecom-Smartfren)

Namun, dalam penyelenggaraan jaringan operator ini berkerjasama dengan Smartfren  pasca dilakukan sinergi. Hal ini dipertegas dengan keputusan pemerintah yang mengalokasikan frekuensi milik Bakrie Telecom ke Smartfren untuk menggelar 4G LTE.

“Rencananya tahun depan kita akan meluncurkan layanan seluler 4G LTE dengan merek baru, bekerja sama dengan penyelenggara jaringan yang lain,” kata Direktur Utama Bakrie Telecom Jastiro Abi, kemarin.

Diungkapkannya,  untuk menjawab tantangan di Era digital seperti saat ini, Bakrie Telecom juga akan fokus dalam pengembangan bisnis digital. Salah satu yang dilakukan terkait hal tersebut adalah dengan meluncurkan aplikasi ESIAtalk. Aplikasi karya anak bangsa ini berani tampil ke depan dan siap bertarung di tengah gempuran aplikasi mobile bawaan pengembang asing.

ESIAtalk hadir untuk menjawab kebutuhan komunikasi masyarakat yang kian dinamis. Mulai dari percakapan singkat melalui teks (chatting), hingga panggilan suara yang memanfaatkan jaringan internet (VoIP). Berbeda dengan aplikasi sejenis buatan asing yang penggunanya hanya bisa berkomunikasi dengan sesama pengguna, ESIAtalk memberikan alternatif komunikasi yang lebih luas.

Tidak hanya dengan sesama pengguna, aplikasi berbasis smartphone buatan Bakrie Telecom ini juga bisa digunakan untuk melakukan panggilan telepon gratis ke berbagai nomor lainnya baik dari dalam maupun luar negeri. (Baca juga: Bakrie Telecom Merugi)

Sejak diluncurkan pada April 2015 lalu, ESIAtalk mampu meraih pencapaian yang cukup menggembirakan. Hanya dalam kurun waktu dua bulan sejak diluncurkan, aplikasi ini telah mengantongi lebih dari 200 ribu pengguna aktif dan bahkan sempat bertengger di jajaran 20 aplikasi teratas di Google Play Store.

“Kita fokus ke aplikasi ESIATalk karena memang teknologi CDMA itu sudah tidak dikembangkan. Kalau dipaksakan, mana perangkat untuk konsumen. Industri seluler sekarang trafik naik, pendapatan belum tentu, malah bottom line tertekan. Jadi, harus pintar-pintar membaca peluang. Kami lihat potensi ada dengan Esiatalk ini,” paparnya.

Direktur Bakrie Telecom Harya Mitra Hidayat  menambahkan,  aplikasi ESIAtalk memungkinkan  pengguna smartphone bisa menikmati fitur komunikasi yang semakin leluasa seperti fitur telepon ke semua nomor, hingga chatting gratis ke sesama pengguna bisa dilakukan. “Semuanya hanya membutuhkan koneksi internet,” ujarnya.

Fitur unggulan ESIAtalk ini bisa dinikmati dengan kualitas suara jernih yang bisa berjalan secara maksimal di jaringan 3G, 4G, atau WiFi. Selain itu, ada nomor virtual unik bagi setiap pengguna, nomor ini bahkan bisa dihubungi kembali oleh si penerima atau lawan bicara.

Sekilas memang aplikasi ini mirip dengan fitur voice call buatan asing yang sudah ada sebelumnya misalnya, Whatsapp, LINE, Kakao Talk, maupun BBM yang sama-sama memanfaatkan teknologi VoIP. Namun bedanya ESIAtalk dapat melakukan panggilan ke semua nomor lokal dan beberapa nomor internasional.

“Pencapaian ini tentu merupakan awal yang baik bagi perkembangan ESIAtalk ke depannya, terlebih aplikasi ini dibuat seluruhnya oleh anak-anak Indonesia semestinya ini bisa menjadi sesuatu yang sangat membanggakan dengan menawarkan suatu inovasi yang sangat menjawab kebutuhan pengguna,” kata Harya.

Nasib Utang
Sementara itu, terkait dengan nasib utang sebesar Rp 7 triliun yang dimiliki perseroan, Abi mengatakan  akan melunasi dengan   mengonversi menjadi saham. (Baca juga: Kemenkominfo kejar Tunggakan BTEL)

"Saat ini kami masih menunggu restu OJK ( otoritas jasa keuangan) mengenai rencana mengkonversi yang Rp7 triliun itu yang PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) itu ke dalam bentuk saham, " katanya.

GCG BUMN
Semantara itu, untuk utang pemerintah yang nilainya mencapai sekitar Rp 1,2 triliun, berbentuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), rencananya akan dibayar perseroan dengan skema cicil."Untuk pemerintah (Piutang pemerintah) memang tidak dikonversi. Kami akan bayar secara bertahap," ujarnya.(id)

Artikel Terkait
Rekomendasi
Berita Pilihan
Idul Fitri IndoTelko
More Stories